@ikhsanyaqub
Entah
darimana aku memulai ini. Rasanya, mengingat kali pertama senyum itu
dilengkungkan lebih sulit daripada menulis tulisan ini. Pelatihan itu,
rumah kayu itu, baju merah itu, cappucino itu -hanya beberapa yang dapat
kuingat. Memang singkat, namun padat dan berkualitas.
Tampilkan postingan dengan label Sastra Amatir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Amatir. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Mei 2015
Senin, 04 Mei 2015
Tuhan, Aku Ingin Dia. Boleh Kan?
@ikhsanyaqub
Waktu itu aku menjalani hariku dengan biasa. Kopi, rokok, korek, buku, gadget, ngobrol, diskusi, ceng-cengan, dan sesekali diam. Tapi senja memang selalu menyimpan makna khas-nya sendiri. Karena senja itu aku bertemu dengannya; dengan dia yang selalu aku samarkan namanya menjadi "bintang". Dan ternyata memang betul bahwa dia itu bintang. Pandanganku saat itu selalu mencari rupanya, dan sesekali dia pun mencariku, sampai akhirnya pencarian kami bertemu. Ah, malu sekali aku waktu itu.
Kamis, 23 Januari 2014
Sudah
@ikhsanyaqub
Kugambar senyummu pada hening kertas di jalan usia yang semakin
terkelupas takdirnya. Seketika aku membayangkan ganasnya kehangatan yang
turun dari sekeliur rambutmu. Harum nafasmu membangunkan kesedihan
Majnun di pucuk teka-teki zaman.Selasa, 30 Juli 2013
Senyawa Arogan
Ketika yang memilih bukanlah pilihannya
yang melirik bukanlah lirikannya
yang melamun bukanlah lamunannya
yang menyanjung bukanlah sanjungannya
Langganan:
Postingan (Atom)


