Selasa, 30 Juli 2013

Bentuk-bentuk Filsafat Islam di Indonesia




 A.      Pendahuluan
            Agama islam adalah agama pembawa pertolongan bagi umat manusia. Hal ini tentu saja dibuktikan dengan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan pasca islam. Hal ini bukan saja membawa dampak terangkatnya harkat umat manusia, akan tetapi juga mengangkat martabatnya, baik secara moral, sosial, maupun intelektual.
            Perkembangan islam dari tahun ke tahun sangat memukau, melewati gurun-gurun pasir Arab sampai India, menyebrangi lautan sampai Eropa, dan bahkan mengarungi samudra sampai nusantara. Perkembangan dan perluasan ini bukan hanya membawa pengaruh-pengaruh islam secara teologis, melainkan juga membawa serta pemikiran-pemikiran filosofis dari para pendahulunya.
            Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia, yang mana hal ini tentu menyimpan banyak pertanyaan, khususnya bagi para pemerhati filsafat. Apakah ada filsafat islam di Indonesia? Kalaupun ada, seperti apa bentuknya? Siapa tokoh-tokoh yang terkenal dan siapa pula yang mempengaruhinya? Makalah ini akan mencoba mengurai bentuk-bentuk filsafat islam di Indonesia.

B.     Sejarah dan Bentuk Filsafat Islam di Indonesia
            Islam Indonesia memiliki karakteristik tersendiri dengan Islam di negara lainnya, karena Indonesia dalam sejarah panjangnya khususnya sebelum Islam masuk terlebih dahulu 'terbangun' peradaban Hindu yang memiliki akar kuat dalam diri dan kepribadian bangsa Indonesia, ditambah lagi suatu kenyataan bahwa saat penetrasi Islam ke Indonesia tidak merekonstruksi total terhadap kondisi budaya yang ada dapat menjadi pijakan utama bahwa tradisi filsafat Islam Indonesia memiliki kecenderungan kuat terhadap gnotisme disebabkan kecenderungan Hinduisme.
            Sehingga tentunya dalam aspek tradisi filsafat Islam lebih banyak dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang sebagaimana dalam pemetaan ini memang terlalu dini dan sederhana, karena itu dalam tulisan ini hanya sebagai upaya pembacaan awal untuk melacak tradisi filsafat Islam Indonesia dengan kafasitasnya yang sangat terbatas dan tidak membicarakan secara detail menurut ukuran abad tertentu, makanya tidak ditemukan pembahasan yang komprehenshif tentang tradisi tersebut. Tulisan ini dengan segala keterbatasannya akan menggali aspek apa saja yang membentuk kecenderungan dan tokoh-tokoh yang memainkan peran dalam mengembangkan tradisi filsafat Islam khususnya dalam konteks lokal yang telah menyatu dalam 'aliran darah' pemikiran Islam di Indonesia secara umum dan dibentuk dengan kuat oleh realitas yang ada dalam diri para pioner tradisi tersebut.
            Menurut penulis perkembangan filsafat Islam Indonesia sangat berkaitan dengan sejarah awal Islam masuk ke Indonesia yang dalam teori umum selalu diperpegangi kuatnya daya tarik dari luar Indonesia sendiri khususnya kawasan India dan Timur Tengah, bahkan menurut studi yang dilakukan Azyurmardi Azra setidaknya ada dua teori, yaitu 'teori perniagaan' dan 'teori sufi', akan tetapi nampaknya Azra lebih memegangi bahwa 'teori sufi'lah yang paling dominan dibanding 'teori perniagaan' dalam pengembangan Islam di wilayah Nusantara tersebut.[1]
            Sufisme mulai mengakar dalam perbincangan kefilsafatan sejak awal tahun 1400-an hingga seterusnya. Perkembangan Sufisme itu dipicu oleh berdirinya kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan Islam yang masif di Indonesia. Raja-raja dan sultan-sultan seperti Sunan Giri, Sunan Gunungjati, Sunan Kudus, Sultan Trenggono, Pakubuwana II, Pakubuwana IV, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah, Engku Haji Muda Raja Abdullah Riau hingga Raja Muhammad Yusuf adalah raja-sufi; mereka mempelajari Sufisme dari guru-guru Sufi terkemuka.[2]
            Sufisme di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua kelompok: Ghazalisme (sufi moderat yang 'kaya kekuatan' fikih)  dan Ibn Arabisme (sufi model falsafi). Ghazalisme utamanya terinspirasi oleh ajaran-ajaran Al-Ghazali, sedangkan Ibn Arabisme dari doktrin-doktrin Ibn Arabi. Sufi-sufi dari jalur Al-Ghazali adalah seperti Nuruddin Al-Raniri, Abdurrauf Al-Singkeli, Abd al-Shamad Al-Palimbangi, dan Syekh Yusuf Makassar, sementara yang dari jalur Ibn Arabi adalah Hamzah Al-Fansuri, Al-Sumatrani, Syekh Siti Jenar, dan lain-lain.[3]
            Dengan demikian melihat gejolak perkembangan pemikiran tersebut dapat diduga ada kemungkinan kalau tradisi tasauf falsafi inilah generasi pertama 'filosof Islam Indonesia' yang lebih didominasi dibanding model tasauf modern, karena dapat disebutkan diantaranya yang cukup populer adalah Al-Fansuri dan sederetan nama sufi lainnya seperti Al-Sumatrani, Siti Jenar dan Ronggowarsito yang memiliki kecenderungan yang sama dalam pengembangan ajaran tasauf falsafi khususnya ajaran wahdat al-Wujud. Ajaran wahdat al-Wujud sendiri dikembangkan oleh sufi besar Ibn 'Arabî merupakan pengembangan dari ajaran al-Hululnya Al-Hallaj yang konteks Indonesia 'sangat kental' dalam pemikiran Siti Jenar khususnya tentang doktrin "ana al-Haq", bahkan dari aspek pengaruh doktrin tersebut antara Al-Hallaj dan Siti Jenar mengalami nasib tragis yang sama, yaitu dihukum mati hati oleh kalangan yang tidak sependapat dengan doktrin tersebut khususnya para fukaha' yang merasa sebagai 'pengawal umat'.[4]
            Fase selanjutnya berbeda dengan generasi pertama nampaknya generasi ini telah banyak dipengaruhi oleh pemikiran pembaharuan yang diserukan oleh beberapa sarjana khususnya yang perihatin atas keterbelakangan umat Islam kalaulah dapat disebut diwakili oleh angkatan H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, Ahmad Sukarti dan lainnya lebih cenderung aktivitas filsafatnya dipengaruhi oleh kondisi politik penjajah yang terjadi, sehingga konsentrasi para 'filsuf Islam' ini lebih banyak mencurahkan konsentrasinya pada aspek perjuangan dengan memunculkan pemikiran yang dapat mempercepat 'pengusiran' penjajah dan menggalang kepentingan sosial.[5]
            Di saat Modernisme Islamik, yang memiliki program yaitu menyintesis ajaran-ajaran Islam dengan filsafat Pencerahan Barat, dimulai oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani di Mesir tahun 1800-an, maka muslim-muslim di Indonesia juga mengadopsi dan mengadaptasinya. Ini nampak jelas dalam karya-karya yang dihasilkan oleh Syaikh Ahmad Khatib, Syaikh Thaher Djalaluddin, Haji Abdul Karim Amrullah, Kyai Ahmad Dahlan, Mohammad Natsir, Oemar Said Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Haji Misbach, dan lain-lain.[6]
            Kemudian dapat disebut generasi ketiga diwakili M. Rasyidi, karena beliau adalah orang yang pertama mengkonsentrasikan dirinya dalam kajian filsafat Islam menurut jenjang pendidikan, tetapi sayang sejauh yang penulis ketahui tidak ada karyanya dalam bidang filsafat Islam yang ada hanya beberapa saduran dari penulis asing.[7] Selain Rasyidi nampaknya yang cukup memberikan perhatian tinggi terhadap filsafat Islam adalah Ahmad Hanafi, setidaknya karya beliau tentang filsafat Islam yang dapat menjadi kontribusi terhadap kekurangan literatur filsafat Islam yang berbahasa Indonesia. Sedangkan pada tingkat pendidikan formal tingkat doktor masih sejauh pengetahuan penulis yang menjadikan filsafat Islam menjadi kesarjanaannya tercatat ada Amin Abdullah, Komaruddin Hidayat, Mulyadi Kartanegara, dan masih banyak sarjana lainnya yang belum terdata penulis.[8] Semuanya itu mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan kondisi baik generasi pertama atau kedua sebagai bukti bahwa tradisi filsafat Islam telah mendapatkan tempatnya khususnya di lembaga pendidikan tinggi Islam Indonesia.

C.     Penutup
            Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tradisi filsafat Islam Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan baik dari generasi pertama hingga ketiga yang dapat dipertegas bahwa karakternya, yaitu generasi kecenderungannya gnotistik murni khususnya pemikiran Ibn 'Arabî, kedua. Kecenderungan filsafatnya lebih ditekankan pada upaya membangkitkan semangat kehidupan berbangsa yang bebas dan merdeka, dan ketiga. Kecenderungan filsafatnya lebih bersifat akademis dengan munculnya sederetan doktor dibidang tersebut.
           
           












DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang) 1971.
Nasr, Syed Hossein., Islamic Spirituality II: Manifestations, (New York: Crossroad) 1991.
Noor, Deliar., Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES) 1996.
http://id.wikipedia.org
http://www.waspada.co.id


[1] http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5904&Itemid=52
[2] Syed Hossein Nasr, Islamic Spirituality II: Manifestations, hal. 282-287
[3] Ibid.
[4] Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, hal. 62-64
[5] http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5904&Itemid=52
[6] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, hal. 37
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Indonesia
[8] http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5904&Itemid=52

Tidak ada komentar:

Posting Komentar