Minggu, 11 November 2012

Epistemologi Galau



Sekarang bukan zamannya orde baru lagi yang cenderung otoriter, tapi yang ada sekarang orde galau yang cenderung melankolis”(Dimas Sigit, Presiden Jurusan Perbandingan Agama 2012).
Sebelum terpikir judul “Epistemologi Galau” yang saya buat, terbesit di angan saya tentang pikiran-pikiran para pembaca yang menyatakan tulisan saya ini semacam legalisasi alay, intelektualisme konyol, dan yang lebih parah lagi yang menyatakan saya “alay garis keras”. Namun pernahkah pembaca sekalian sadar bahwa fenomena ini memang eksis di sekitar kita?, jadi saya sarankan para pembaca jangan terburu-buru berhipotesa yang demikian su’udzon-nya kepada saya. Apalagi melihat proposisi di awal yang berasal dari status FB seorang presiden jurusan, saya jadi tersadarkan bahwa galau memang tidak pandang jabatan dalam memangsa kesenangan manusia.
Fenomena seperti ABG (Anak Baru Galau), Jumudisme dsb, merupakan suatu hal turunan dari konsep galau dalam pikiran kita, yang mana konsep galau ini terjewantahkan dalam status-status Facebook, Tweet, BBM, sinetron-sinetron, bahkan sampai ketua komisariat saya bersabda: “Galau berjamaah lebih baik dari galau munfarid”. Ini semua membuat beberapa pertanyaan dalam kesadaran saya, seperti “apa itu galau?”, “apakah galau memang ada?”, “apakah kucing juga galau?” dsb.
Pertanyaan-pertanyaan seperti “Bagaimana saya tahu bahwa saya dapat tahu kalau saya galau?”, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab dalam epistemologi, karena ia adalah suatu upaya rasional untuk menimbang nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan sosial, dan alam sekitarnya. Maka dalam epistemologi terdapat suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif(menilai), normatif(tolak ukur), dan kritis(mempertanyakan kembali). Jadi Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat.
Ya, bagaimana saya tahu bagaimana saya tahu kalau saya galau?, memang pertanyaan yang agak njelimet. Tapi terlepas dari itu, seyogianya manusia yang kodratnya ingin tahu, jangan terburu-buru yakin dengan yang kita tahu, karena yang kita tahu itu adalah anggapan umum yang kita ajeg saja menerimanya. Mengapa?, karena filsuf Yunani bernama Socrates berkata “tidak ada seorang manusia pun yang mempunyai pengetahuan”, artinya disaat orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Socrates bilang dia tahu bahwa ia tidak tahu (Delphi).
Sementara Plato bilang, filsafat bermulai dari rasa kagum, tapi bukan rasa kagum seperti kepanikan orang desa yang bingung melihat kecanggihan Tablet PC, tetapi rasa disini kagum akan sesuatu yang sederhana yang tampaknya jelas dalam pengalaman harian , galau misalnya. Karena hal-hal seperti inilah yang paling sulit untuk dilukiskan. Agustinus memberikan contoh sewaktu dia menanyakan “apa itu waktu?, bila tak ada orang yang menanyaiku, aku tahu apa itu waktu; tapi jika saya ingin menjelaskannya pada seseorang, saya tidak tahu”. Seperti halnya “apa itu galau?”, kita pasti sudah nyaman dengan kejelasan maknanya, tapi apa yang kita tahu adalah apa yang “diketahui semua orang”, dengan kata lain tak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui apa itu “galau”. Maka Heidegger berkata: “manusia adalah mahluk yang paling aneh, karena mahluk yang paling dekat dan paling jauh dari rahasia segala yang dialaminya”.
Rasa kagum menempatkan kita pada pengalaman kita, namun menempatkan kita dihadapannya sebagai sesuatu yang sama sekali asing, karena rasa kagumlah yang menjauhkan kita dari pandangan umum yang bersifat yakin akan sesuatu, tetapi anggapan umum tidak mempertanyakan keyakinan-keyakinan salah ini dengan menyelidikinya untuk mempertanyakan kedudukan dari keyakinan-keyakinan yang benar. Itulah sebabnya seorang filsuf tidak dapat merasa nyaman dalam anggapan umum ini, sebab penemuan sains tidak mau didamaikan dengan keyakinan-keyakinan hariannya. Sains menjelaskan bahwa dunia terdiri dari sekumpulan-sekumpulan atom misalnya, tetapi ia mempunyai gambaran tersendiri mengenai dunia, contohnya ia melihat warna, merasakan panas-dingin, merasa takut dan galau, tetapi yang diselidiki sains hal-hal yang dipersepsikannya itu tak ada. Apakah persepsi-persepsinya hanya ada dalam kepalanya, sementara itu semua berbeda dari kenyataannya?.
Lantas kalau pengetahuan bermaksud mengetahui benda-benda sebagaimana benarnya, bagaimana kita dapat tahu bahwa kita telah mengetahui benda-benda itu sebagaimana benarnya?, jangan-jangan apa yang saya sudah saya anggap sebagaimana benarnya itu hanya kesan-kesan saya saja?, atau jangan-jangan apa yang sudah saya anggap benar itu hanyalah tipuan dari kesan-kesan saya yang terpengaruh anggapan umum?.
Dalam perdebatan epistemologi, saya dapat menyimpulkan dua aliran besar dalam filsafat, yaitu aliran rasionalisme dan empirisme. Kita dalam kegiatan “mengetahui” itu lebih menjagokan mana? Rasio kah atau pengalaman kah?. Tapi sebelum melangkah jauh ke dua aliran itu, coba kita bayangkan, apakah yang bisa galau itu hanya manusia?, lebih mundur lagi, apakah galau itu memang “ada”?. Sepertinya kita butuh pemahaman ontologi terlebih dahulu.
Tuhan menciptakan segala sesuatu yang “ada”, karena tidak mungkin Dia menciptakan sesuatu yang “tidak ada”, sebab kalau tujuannya “tidak ada”, ya tidak usah diciptakan gitu loh!, toh “tidak ada” memang “tidak ada”. Maka dari “tidak ada” ini, diciptakan-Nya lah supaya “ada”. Tetapi jangan kita sama artikan kata “cipta” menurut manusia dan Tuhan. “Cipta” menurut manusia itu membutuhkan anasir-anasir atau bahan baku, sedangkan Tuhan?. Pernyataan seperti ketidakmungkinan Tuhan menciptakan Tuhan lain yang lebih kuat dari-Nya, menyiratkan makna bahwa Tuhan itu hanya berkuasa pada sesuatu yang “ada”, karena memang tuhan-tuhan lain selain Dia itu “tidak ada”, maka Dia tidak berkuasa atas yang “tidak ada”. Sampai disini, ada hipotesa awal bahwa Tuhan itu menciptakan yang “ada”, maka yang “ada” adalah ciptaan-Nya. Tanpa adanya “ada”, “galau” pun tidak ada, karena “galau” adalah bagian dari “ada” itu sendiri. Oke, sampai disini saya berpendapat bahwa “galau” itu “ada”.
Lantas kalau memang “galau” itu “ada”, apakah galau itu melulu hak manusia?, seperti contoh apakah kucing betina yang sehabis dikawini si jantan lalu ditinggal pergi, si betina tidak galau?, lalu mengapa istrinya bang Toyib galau?, apakah perbedaan kucing dengan manusia?. Kalau memang ya, kucing tidak bisa merasakan “galau”, berarti ia juga tidak bisa merasakan “senang”, berarti juga ia tidak dapat merasakan perasaan-perasaan apapun, hampa, kosong maknanya. al-Insan hayawaanu an-Natiq, adalah definisi manusia. Jadi tidak ada bedanya manusia dengan kucing, karena mereka sama-sama binatang, tapi hanya “binatang manusia” lah yang bisa berpikir (menilai, memberi makna, dan menghayati), jadi berpikir adalah differensiasi/pembeda dari definisi manusia.
Dalam oposisi biner, kita mengenal kata “galau” beroposisi dengan “senang”, seperti halnya “gelap” beroposisi dengan “terang”. Kalau melihat oposisi-oposisi seperti ini, saya jadi teringat dialog antara Albert Einstein dengan Dosennya:
Dalam sebuah kuliah Einstein berdebat dengan dosennya, setelah dosen itu berkata: “Tuhan menciptakan yang ‘ada’, maka menciptakan kebaikan dan kejahatan”. Lalu Einstein berkata: “Professor, apakah dingin itu ada?”. “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada, Apakah kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. “Kenyataannya pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali, dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas”, “Professor, apakah gelap itu ada?”. Professor itu menjawab: “Tentu saja gelap itu ada”. “Sekali lagi anda salah pak., Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak”. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna, tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya”,  “Professor, apakah kejahatan itu ada?”. Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan”. “Sekali lagi Anda salah pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya”. (http://thelando.wordpress.com/2011/08/26/sebuah-dialog-mahasiswa-brilian-dengan-professor-tentang-tuhan/)
Dari dialog di atas, dapatkah kita tarik pemahamannya ke judul ini? Kalau “galau” beroposisi dengan “senang”, berarti galau itu tidak ada, karena kita tidak bisa mengukur kadar intensitas galau dalam diri kita, yang kita bisa ukur adalah kadar intensitas “senang” dalam diri kita. Jadi “galau” hanyalah deskripsi ketidakhadiran “senang” dalam diri kita, galau adalah lowhappy, senang yang hampir habis, begitu kira-kira. Tetapi saya sendiri memahami Einstein sebagai positivis, karena dia menganggap yang “ada” adalah sesuatu yang dapat diukur. Sampai disini, kita mempunyai hipotesa baru, yaitu “galau” itu “tidak ada”, karena tak dapat diukur.
Memang positivisme lebih mempersempit lagi dari induknya, empirisme. Empirisme, sejauh yang saya tahu, mendasarkan kebenaran pada pengalaman. Metode yang digunakan adalah induktif. Manusia setelah lahir belum tahu apa itu “galau”, lantas setelah dia beranjak alay-lah dia mengalami pengalaman-pengalaman “galau”. Jadi pengetahuan manusia itu murni karena pengalaman, kira-kira begitu singkatnya empirisme. Tapi ada satu permasalahan dalam empirisme, semisal kalau yang kita percayai sebagai pe-ngetahuan adalah melulu dari pengalaman, lantas apakah kita tidak percaya bahwa 1.000.000x1.000.000=1.000.000.000.000?, bukankah hitung-hitungan sebanyak itu hanya dapat dilakukan di dalam rasio?. Jadi galau itu cuma masalah pengalaman saja, jika anda tidak ingin galau, ya jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat anda galau.
Lain halnya dengan Rasionalisme, yang mendasarkan kebenaran hanya pada rasio/pikirannya saja, tapi bukan berarti empiris ditolak, tapi empiris adalah sarananya saja. Metodenya adalah deduktif. Jadi pengetahuan lebih utama didapat dari rasio. Rasiolah yang memberi makna bahwa kejadian jomblo seumur hidup itu adalah “galau”. Jadi galau itu cuma masalah pemberian nilai dan makna atas pengalaman-pengalaman oleh rasio kita, jika anda tidak ingin galau, ya jangan maknai pengalaman seperti dompet hilang itu adalah galau, berilah makna itu adalah senang, atau setidaknya biasa-biasa saja lah.
Beda dengan aliran pragmatisme yang melihat kebenaran hanya dari hasilnya/ untungnya bagi manusia, terserah mau rasionalis atau empiris, yang penting ada untungnya. Jadi selagi galau itu menghasilkan semangat untuk menekuni hal-hal yang lebih penting, tentu akan menguntungkan kehidupan kita sebagai manusia bukan?. Sebagaimana sastrawan yang dia harus selalu galau untuk menghasilkan karya-karya sastranya, dan juga sebagaimana kita sebagai muslim yang harus selalu galau akan neraka, supaya rajin beribadah untuk menghasilkan surga. Galau is the spirit of human being lah pokoknya.
Sebagai penutup, saya akan mengutip salah seorang aktivis galau yang sekarang sedang menjabat sebagai presiden jurusan Perbandingan Agama di fakultas saya: “Proses terjadinya galau adalah bermula dari sebuah masalah yang sebetulnya tidak penting, kemudian masalah tersebut ingin di cerna oleh otak yang kosong, sehingga otak tidak dapat mencernanya dengan baik. Akibatnya masalah itu mengambang tidak menentu (macam roh penasaran). Tapi yang kemudian menjadi masalah besar adalah kelebayan yang diangkat kepermukaan yang menjadi fenomena, mulai dari iris tangan sampai pada ketidakjelasan sikap terhadap lingkungan, untuk para pejuang realitas hidup hilangkan lah fenomena yang seharusnya menjadi pelajaran bukan menjadi fatalisme dengan kelebayaan yang seharusnya dibuang dan menjadi instropeksi diri”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar